SIAPA DIRI KITA



» أَفْضَلُ الْمُؤْمِنِينَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَأَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُم لِلمَوتِ ذِكْرًا وَ أَحْسَنُهُم لَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاس «

“Orang mukmin yang paling unggul adalah orang yang paling indah pekertinya. Orang yang cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik dalam mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Mereka adalah cendekiawan.” 

(HR. Ibnu Majah, no. 3454, dihasankan syekh Albani dalam Shahih Ibnu Majah).

Saudaraku,

Menggantungkan diri terhadap dunia. Mengikat hati pada tembok yang rapuh dari warna ketaatan. Menempelkan hati pada tiang kealpaan. Berpijak pada batu yang licin dan runcing. Berharap pada hamba dan makhluk-Nya yang lemah dan dhaif. Itu semua merupakan pangkal kebinasaan. Dermaga kehancuran. Ibarat memahat prasasti di atas lautan yang dalam.

Musthafa al-Siba’i, seorang pencerah umat dan pengelola amar ma’ruf dan nahi munkar dari Siria pernah menulis dalam karyanya yang fenomenal “hakadza ‘allamatni al-hayatu” yang merupakan tuangan pena dari rangkuman hidup yang pernah ia jalani. Ia bertutur,

Siapa yang meletakkan hatinya di atas meja dunia, maka ia tak akan pernah dapat mengecap kelezatan khalawah (berdua-duan) dengan Allah s.w.t.

Siapa yang menautkan hatinya pada pentas dunia, maka ia tak pernah dapat merasakan manisnya berdekatan dengan kalam Allah (al-Qur'an).

Siapa yang mendekatkan hatinya pada kekuasaan, maka ia tak akan pernah meraih indahnya tawadhu' di hadapan Allah.

Siapa yang memiliki ketergantungan pada harta, maka ia tak bisa menggapai sejuknya berderma di jalan Allah.

Siapa yang membiarkan hatinya terseret tenggelam mengikuti arus syahwat, maka ia tak pernah merasakan keindahan ma'rifatullah.

Siapa yang membatasi cinta-nya hanya terhadap istri dan anak, maka ia tak dapat meraih manisnya berjuang di jalan Allah.

Dan siapa yang memanjangkan angan-angan, maka ia tak akan pernah merasakan kerinduan terhadap surga.”

Saudaraku, 

Sejak lama kita terombang-ambing dalam kebimbangan yang tak berujung. Kemanisan hidup menyingkir dari kedalaman hati kita. Kekhawatiran menyelimuti jiwa. Ketakutan memenuhi relung. Putus asa memayungi pikiran diri. Dan seterusnya.

Mustafa al-Siba’i membukakan mata hati kita, terkait faktor yang memicu hilangnya kelezatan iman dan manisnya ketaatan yang kita ukir dengan susah payah. 

Mengapa kita tak pernah khusyu' dalam berkhalwat ketika kita shalat menghadap-Nya. Shalat yang kita lakukan hanya sekadar gerakan tubuh dan rutinitas zahir dari takbir, ruku' dan sujud yang diakhiri dengan salam. Tanpa menemukan makna dan kekuatan ruhani.

Mengapa al Qur'an yang kita baca terasa hambar tak membekas di hati, jauh dari kata tadabbur..bahkan bayangan WA, sms, facebook dari teman-teman chatting lebih menggugah hati. Pertandingan El-Classico antara Real Madrid versus Barcelona dan derby Manchester lebih menghibur dan dinanti.

Mengapa kita beramal, mengharap ada orang yang menyaksikan dan mendengarkan amal baik kita, lalu kita bangga jika manusia membicarakan kebaikan kita. Tampil di Televisi dan menjadi bahan berita utama di media massa menjadi buruan, agar kita semakin dikenal public dan dielu-elukan masyarakat yang telah buta.

Mengapa hati kita teramat berat merogoh kocek kita berinfaq di jalan-Nya walau hanya satu lembar puluhan ribu sehari. Tapi ratusan rupiah saat belanja di supermarket dan mall-mall kesohor justru menjadi kebanggaan tanpa ada rasa penyesalan. 

Dan mengapa hati kita begitu sulit menghadirkan perasaan selalu diawasi Allah (muraqabatullah). Bahkan kita tertawa penuh kemenangan ketika mampu mencuri dosa dan maksiat tanpa tertangkap kaca mata orang lain.

Dan mengapa kita belum mampu menjadikan anak dan istri kita sebagai sumber inspirasi perjuangan kita dalam hidup. Kita terjebak di ruang angin-anginan dalam berjuang. Saat ada maslahat, kita berada di barisan terdepan. Namun bila manfaat duniawi menjauhi kita sejarak mata memandang, kita pun menghilang dari ladang perjuangan.

Serta mengapa kita belum mampu menghadirkan wajah bidadari bermata jeli di surga. Panggilan Mardhiyah dari surga tak terdengar di telinga kita. Dan justru rintihan dan panggilan manja Mardhiyah tetangga desa teramat jelas terdengar di telinga kita.

Saudaraku,

Hanya ada satu jalan untuk bangkit dari keterpurukan ini. Kita putus segala ketergantungan itu. Dan memulai hidup baru dengan hanya bergantung kepada Allah semata. Dzat Yang Mahakuat dan Mahakuasa.

Benarlah kata orang bijak, "Ketergantungan itu membelenggu."

Ya Rabb, kami beristighfar dan bertaubat kepada-Mu. Ampuni kesalahan, kekuarangan dan kekliruan yang pernah kami perbuat. Amien.


Metro, 15 Oktober 2020

Fir’adi Abu Ja’far

Terima kasih telah membaca, mudah-mudahan apa yang anda baca ada manfaatnya. Dengan senang hati, jika anda berkomentar pada tempat yang disediakan dengan bahasa yang santun..

Posting Komentar

Terima kasih telah membaca, mudah-mudahan apa yang anda baca ada manfaatnya. Dengan senang hati, jika anda berkomentar pada tempat yang disediakan dengan bahasa yang santun..

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama