Pilar-pilar Kebangkitan Umat : Kebangkitan Ruhiyah ( Bagian 2 )

Kebangkitan Umat Bagian 2


Di hadapan kita ada medan amal yang demikian berat. Sebuah kerja besar yang harus dilakukan secara kolektif  (amal jama’i), berbekal iman yang mantap (al-imanul ‘amiq), pembentukan (pembinaan) yang cermat (at-takwinud daqiq), dan kerja yang berkesinambungan (al-‘amalul mutawashil). Demi terwujudnya kebangkitan umat kita harus bekerja keras memancangkan pilar-pilar penyangganya, ia adalah:

Al-Yaqdhatur Ruhiyah (kesadaran/kebangkitan ruhiyah)

Inti kekuatan umat ada pada kekuatan ruhani, bukan pada kekuatan materi. Di sepanjang sejarahnya, dapat kita ketahui bahwa kekuatan ruhani itulah yang menjadi andalan. Tumbuh darinya keikhlasan, semangat jihad, tadhiyah (kesungguhan), dan badzli (pengorbanan jiwa dan raga). Tanpa itu, pertolongan Allah Ta’ala tidak mungkin akan turun dan kita pun tidak akan mungkin memperoleh kemenangan.

Gambaran tentang hal ini terungkap dari episode sirah generasi terbaik umat ini. Sebelum terjadinya Perang Mu’tah, saat para sahabat mempertimbangkan langkah terbaik guna menghadapi pertempuran yang tidak seimbang—3.000 prajurit melawan 200.000 prajurit—Abdullah bin Rawahah menyampaikan pendapatnya, “Hai kaum, demi Allah, sesungguhnya apa yang tidak kalian sukai ini adalah merupakan tujuan keberangkatan kalian. Bukankah kalian menginginkan mati syahid? Kita memerangi musuh bukanlah dengan mengandalkan jumlah, kekuatan, maupun banyaknya balatentara. Kita memerangi mereka hanyalah dengan mengandalkan agama ini, yang dengannya Allah memuliakan kita. Maka dari itu, maju terus! Kita pasti memperoleh satu dari dua kebaikan, menang atau mati syahid!”

Abu Hurairah berkata tentang pengalamannya mengikuti Perang Mu’tah, “Aku turut serta dalam perang Mu’tah. Ketika pasukan musyrikin mendekat, kami melihat perbekalan, perlengkapan, dan persenjataan mereka tidak ada tolok bandingnya, sehingga aku sendiri merasa silau. Ketika itu Tsabit bin Arqam bertanya kepadaku: ‘Hai Abu Hurairah, tampaknya engkau heran melihat pasukan musuh begitu besar bukan?’ Aku menjawab: ‘Ya benar.’ Tsabit berkata,”Itu karena engkau tidak turut serta dalam perang Badr bersama kami. Ketika itu kami menang bukan karena besarnya jumlah pasukan!”

Di dalam sirah diriwayatkan pula bahwa musuh mana pun tidak akan sanggup bertahan lama menghadapi sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Hireklius sekalipun. Ketika ia berada di Anthakiyah dan pasukan Romawi datang dalam keadaan kalah, ia berkata kepada mereka, “Celaka kalian. Jelaskan kepadaku tentang orang-orang yang berperang melawan kalian! Bukankah mereka manusia seperti kalian juga?” Pasukan Romawi menjawab, “Betul.”

Hireklius bertanya lagi, “Siapa yang lebih banyak pasukannya; kalian atau mereka?”  Pasukan Romawi menjawab, “Kami lebih banyak pasukannya beberapa kali lipat di semua tempat.”

Hireklius berkata, “Kalau begitu kenapa kalian kalah?”

Salah seorang tokoh Romawi menjawab, “Karena mereka melakukan qiyamu lail, berpuasa di siang hari, menepati janji, memerintahkan hal-hal baik, melarang hal-hal mungkar, dan adil sesama mereka. Sedangkan kita minum minuman keras, berzina, menaiki kendaraan haram, bersikap ingkar janji, merampok, menzalimi orang, memerintahkan hal-hal yang haram, melarang hal-hal yang diridhai Allah, dan membuat kerusakan di bumi.”

Hireklius berkata  kepada tokoh itu, “Anda berkata benar kepadaku.”[2]

Dengan kecerdasannya, tokoh Romawi itu meringkas sebab-sebab pembawa kemenangan dan sebab-sebab pembawa kekalahan. Ia jelaskan bahwa pasukan Islam punya seluruh sebab pembawa kemenangan, sedang pasukan Romawi punya semua sebab pembawa kekalahan. Allah ta’ala pun menolong siapa yang berhak ditolong dan menelantarkan siapa yang berhak ditelantarkan. [3]

Maka, pilar pertama yang harus kita bangun dengan sungguh-sungguh sebelum yang lainnya adalah kebangkitan ruhiyah.

Allah ta’ala berfirman,

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu’min bertawakkal.” (QS. Ali Imran, 3: 160)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (Q.S. Al-Hajj, 22: 77)

Terima kasih telah membaca, mudah-mudahan apa yang anda baca ada manfaatnya. Dengan senang hati, jika anda berkomentar pada tempat yang disediakan dengan bahasa yang santun..

Posting Komentar

Terima kasih telah membaca, mudah-mudahan apa yang anda baca ada manfaatnya. Dengan senang hati, jika anda berkomentar pada tempat yang disediakan dengan bahasa yang santun..

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama