Datangnya Hari Kiamat yang Menyulitkan

Ilustrasi


DATANGNYA HARI KIAMAT YANG MENYULITKAN


» بادروا بالأعمال سبعًا، هل تنتظرون إلا فقراً مُنسيًا، أو غنًى مُطغيًا، أو مرضاً مُفسدًا، أو هَرَماً مُفنِّدًا، أو موتاً مُجهِزًا، أو الدجال، فشر غائب ينتظر، أو الساعة، والساعة أدهى وأمر؟ «

“Segeralah kalian melakukan amal shalih karena tujuh hal. Apakah kalian menunggu hingga mengalami kefakiran yang melupakan, kekayaan yang melampaui batas, penyakit yang membinasakan atau masa tua yang membuatnya menyeracah, atau kematian yang mengagetkan, atau (kemunculan) dajjal, seburuk buruk yang tidak hadir yang ditunggu, atau hari kiamat, sebab hari kiamat itu menyulitkan dan sangat pahit.” 
(HR. Tirmidzi, no. 2306).

Saudaraku,
Mengimani kedatangan hari kiamat merupakan bagian dari rukun iman yang harus tertancap kokoh di dalam hati kita. Bimbang dan ragu dengan ketibaannya pertanda lemah dan rapuh keimanan kita. Apalagi mengingkarinya, dapat merobohkan keimanan yang telah kita bangun di dalam jiwa kita.

Allah s.w.t mengabarkan bahwa kedatangan hari kiamat adalah dekat. Karena setiap perkara yang pasti terjadi dibahasakan al-Qur’an dengan sesuatu yang dekat. “Mereka memandang siksa (hari kiamat) itu jauh, sedang Kami memandangnya dekat.” (QS. Al-Ma’arij: 6-7).

Walau hari kiamat telah dekat, tapi tiada seorang makhluk ciptaan-Nya yang mengetahui kapan terjadinya hari tersebut. Baik itu dari kalangan malaikat yang dekat dengan Maha Pencipta, para nabi dan rasul yang diutus oleh-Nya, para shiddiqien yang telah menemteramkan alam sekitar dengan kejujuran dan sifat amanahnya. Para syuhada’ yang telah membuktikan kesungguhannya meraih surga dengan pengorbanan harta dan jiwanya.  para shalihin yang telah mewarnai bumi dengan keshalihan pribadinya. Dan yang seirama dengan itu. Apatah lagi manusia biasa seperti kita, yang tak luput dari dosa dan kesalahan. Yang terkadang larut mengikuti gelombang nafsu ankara.

Saudaraku,
Suatu ketika ada yang menanyakan kepada diri ini, “Apa benar dunia ini akan berakhir (kiamat) tidak melebihi tahun 1500 hijriyah, karena ada seorang ustadz, yang dijuluki ‘ustadz akhir zaman’ menyatakan demikian?.”

Aku tersenyum, lalu ku katakan kepadanya,
Pertama, banyak ayat dalam al-Qur’an yang menegaskan bahwa hari kiamat ketibaannya tiada yang mengetahui melainkan Allah Ta’ala. Di antaranya firman-Nya, “Manusia bertanya kepadamu tentang hari kiamat. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu hanya di sisi Allah.” (QS. al-Ahzab: 63).

Kedua, kita adakan studi perbandingan, dengan menggunakan kaca mata bathin. Malaikat Jibril a.s dan Rasulullah s.a.w utusan terbaik dari malaikat dan rasul terbaik dari manusia, keduanya tidak mengetahui kepastian datangnya hari kiamat.

Saat Jibril bertanya kepada Nabi s.a.w, “fa akhbirni ‘anis-sa’ah!.” Kabarkan kepadaku kapan datangnya hari kiamat.” Nabi menjawab, “Mal mas’ulu ‘anha bi a’lama min as-saail.” Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang ditanya.” (HR. Muslim, no. 8).


Jika malaikat Jibril dan Nabi s.a.w tidak memiliki pengetahuan tentang kapan datanngnya hari kiamat, bagaimana seorang ustadz atau penceramah atau tokoh agama di zaman ini yang bukan golongan malaikat dan bukan pula nabi bisa memastikan bahwa dunia tidak melampaui tahun 1500 hijriyah?. Allahul musta’an.

Ketiga, dalam sejarah ada beberapa ulama yang memprediksi ketibaan hari kiamat berlandaskan dalil nash dan argumen-argumen tertentu. Tapi hasilnya hampa dari kenyataan, sebagaimana disebutkan syekh Umar Sulaiman al-Asyqar dalam karyanya ‘al-qiyamah al-sughra’.

Imam al-Thabari menyimpulkan dari beberapa dalil nash bahwa kefanaan dunia (kiamat) akan terjadi 500 tahun setelah kerasulan Muhammad.

Al-Suyuthi dalam bukunya ‘al-kasysyaf’ memprediksi bahwa kiamat akan terjadi pada akhir tahun kelima setelah seribu tahun dari kerasulan Muhammad.

Al-Suhaili mengumpulkan huruf-huruf terpisah di awal surat-surat al-Qur’an, membuang huruf-huruf yang terulang, mengambil jumlahnya dengan perhitungan kalimat dan berdasarkan hal tersebut maka ia menentukan waktu kiamat yang tidak sampai beberapa ratus tahun dari kerasulan Muhammad.

DR. Bahai mengklaim bahwa kiamat akan terjadi pada tahuan 1710 H. Dia simpulkan dari bilangan huruf-huruf terpisah yang terdapat di permulaan surat-surat dalam al-Qur’an.

Prediksi ulama di masa silam dan ulama yang datang kemudian tentang kedatangan hari kiamat, adalah ijtihad murni tanpa dasar yang jelas, terlebih hal itu bertentangan dengan prinsip yang diajarkan dalam syariat, maka tidak selayaknya kita jadikan sebagai acuan dan rujukan.

Baca Juga : Kematian Yang Mengejutkan

Saudaraku,
Apa hikmah di balik rahasia datangnya hari kiamat?. Asy-syahid Sayyid Qutub menjawab pertanyaan ini dengan ucapannya, “Sesuatu yang bersifat rahasia adalah unsur dasar dalam kehidupan manusia dan juga untuk pembentukan jiwa manusia yang hanif. Di mana dalam hidup manusia harus ada sesuatu yang sifatnya rahasia, sehingga mendorong mereka untuk membuka tabir rahasia tersebut.”

Imam al-Sa’di dalam tafsirnya ‘taisir al-Karim al-Rahman’ menjelaskan ayat 42-44 surat an-Nazi’at, “Orang-orang kafir bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kiamat, kapankah terjadinya? Siapakah kamu sehingga dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah dikembalikan ketentuan waktunya.”

“Ayat tersebut, semata-mata untuk menggali kapan tibanya hari kiamat, sudah dekat atau masih jauh, tidak memiliki manfaat sama sekali. Yang lebih penting adalah kondisi manusia di hari kiamat, rugi, untung, celaka, ataukah bahagia. Bagaimana seorang hamba mendapatkan adzab ataukah sebaliknya, mendapatkan pahala..”

Kami Merekomendasikan untuk Membaca : Masa Tua Yang Melemahkan
Saudaraku,
Suatu hari ada sahabat yang bertanya kepada Nabi s.a.w tentang kapan datangnya hari kiamat?.” Nabi justru balik bertanya, “Ma a’dadta laha?.” Apa yang sudah kamu persiapkan untuk menyambut kedatangannya?....”. (HR. Bukhari, no. 6171 dan Muslim, no. 2639).

Hari kiamat pasti terjadi dengan segala kengerian huru hara dan kedahsyatannya, masalah waktu ketibaannya hanya Allah Ta’ala yang Maha Mengetahuinya.

Yang urgen dan mesti kita lakukan sekarang adalah menyiapkan bekal iman, ilmu dan amal. Karena kebahagiaan atau kesengsaraan kita pasca kiamat, ditentukan oleh perkara-perkara esensi tersebut. Wallahu a’lam bishawab.


Metro, 17 Juni 2020
Fir’adi Abu Ja’far


Terima kasih telah membaca, mudah-mudahan apa yang anda baca ada manfaatnya. Dengan senang hati, jika anda berkomentar pada tempat yang disediakan dengan bahasa yang santun..

Posting Komentar

Terima kasih telah membaca, mudah-mudahan apa yang anda baca ada manfaatnya. Dengan senang hati, jika anda berkomentar pada tempat yang disediakan dengan bahasa yang santun..

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama