Pilar-pilar Kebangkitan Umat : Pemahaman Lapangan ( Bagian 5 )



 Al-Ma’rifatul Maidaniyah (pemahaman lapangan)

Dari uraian sebelumnya, semakin tergambar bahwa upaya penegakan pilar-pilar kebangkitan umat ini bukanlah perkara yang sederhana. Upaya menumbuhkan kekuatan ruhani, kebangkitan pemikiran, dan penguasaan teori/konsep tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Upaya-upaya ini harus dilakukan dengan mempertimbangkan situasi teologis (keagamaan), kultural (budaya), dan struktural (kekuasaan) di masyarakat.

Pemahaman lapangan yang tepat dan cermat akan melahirkan kebijakan dakwah yang tepat dan cermat pula. Jika kita perhatikan dinamika perjalan dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,tentu akan kita temukan contoh kebijakan-kebijakan dakwahnya yang menggambarkan tentang pemahaman lapangan yang beliau miliki.

Dakwah Sirriyah

Perhatikanlah, kebijakan dakwah sirriyah (sembunyi-sembunyi) yang beliau lakukan selama tiga tahun di masa awal dakwahnya; seruan kepada Islam saat itu tidak dilakukan secara terbuka di pertemuan-pertemuan dan majelis-majelis umum. Tetapi dilakukan berdasarkan pilihan/seleksi. Maka pada tahapan ini gerak dakwah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhasil merekrut semua lapisan masyarakat: orang-orang merdeka, kaum budak, lelaki, wanita, pemuda, dan orang-orang tua. Bahkan telah bergabung ke Islam ini orang-orang dari segenap suku bangsa Quraisy, sehingga hampir tidak ada keluarga di Makkah kecuali satu atau dua orang anggotanya telah masuk Islam.

Syaikh Munir Muhammad  al-Ghadban dalam Manhaj Haraki-nya mengatakan bahwa boleh dikatakan pada periode sirriyah ini Quraisy lebih banyak memperhatikan golongan hanif—yang dianut oleh Zaid bin Amer bin Naufal, Waraqah bin Naufal, dan Umaiyah bin Abu Shalt—daripada kaum muslimin. Hal ini disebabkan orang-orang hanif itu pernah mengatakan keraguan mereka terhadap berhala-berhala kaum Quraisy dan sesembahan orang-orang Arab, sementara kaum muslimin belum pernah menyatakan sikap seperti itu.

Pada periode ini tidak pernah terdengar adanya ‘benturan’ antara masyarakat Islam yang sedang tumbuh dengan masyarakat jahiliyyah. Karena fikrah belum diumumkan selain kepada orang yang ‘dipastikan’ mau bergabung dengan komunitas Islam yang sudah ada.

Dakwah Jahriyah Setelah Mendapatkan Jaminan Keamanan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk berdakwah kepada kaum kerabatnya.[12] Maka hal pertama yang beliau lakukan adalah menyampaikan dakwahnya itu kepada Bani Hasyim dan Bani Mutahallib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan mereka lalu menyampaikan dan mengajak mereka kepada ajaran Islam. Pada saat itu beliau langsung mendapat penentangan dari Abu Lahab. Meskipun begitu, kontak pertama ini telah berhasil meraih dukungan ‘perlindungan dan pembelaan’ dari Abu Thalib. Ia berkata di majelis itu, “Demi Allah, aku akan tetap melindungi dan membelamu, tetapi aku sendiri tidak dapat meninggalkan agama Abdul Muthallib.”

Setelah yakin akan mendapat pembelaan dari Abu Thalib inilah kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai melancarkan dakwahnya secara terang-terangan kepada khalayak yang lebih luas. Beliau memanfaatkan perlindungan dan pembelaan Abu Thalib itu untuk terus mengembangkan dakwahnya. Mengomentari hal ini Rasulullah bersabda, “Quraisy tidak dapat melancarkan suatu tindakan yang tidak aku sukai, sampai Abu Thalib meninggal dunia.”[13]

Pertemuan-pertemuan Rahasia  di rumah Arqam bin Abil Arqam

Dakwah memang sudah disampaikan secara terbuka, tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap merahasiakan ‘organisasi’-nya demi melindungi perkembangan dakwah dan pengikutnya. Rasulullah mengadakan ‘pengajian rutin’ secara tersembunyi di rumah Arqam bin Abil Arqam. Seandainya markaz dakwah  ini diumumkan, niscaya penduduk Makkah akan menyerbu, dan akan mengakibatkan terjadi kontak senjata antara kedua belah pihak.

Mengapa dipilih rumah Arqam? Menurut Syaikh Munir Muhammad Ghadban, pemilihan tempat itu untuk mengecoh orang-orang Quraisy. Pertama, karena Arqam tidak diketahui keislamannya. Kedua, karena Arqam berasal dari Bani Makhzum yang merupakan musuh bebuyutan Bani Hasyim—keluarga besar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamKetiga, karena Arqam saat itu masih berusia muda, sekitar 16 tahun, sehingga tidak terpikirkan oleh orang-orang Quraisy jika markaz dakwah itu bertempat di rumah ‘anak kecil’.

Hijrah ke Habasyah

Dalam fase dakwah jahriyah, kaum muslimin menghadapi berbagai macam tribulasi. Namun, hantaman penyiksaan itu tidak dilawan oleh kaum muslimin kecuali dengan kesabaran. Bukan karena mereka penakut. Namun siyasatu dakwah pada saat itu memang tidak menghendaki adanya perlawanan yang hanya akan menyebabkan musnahnya ‘benih-benih dakwah’ secara keseluruhan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bermaksud melindungi para pengikutnya dari ancaman bahaya, maka beliau bersabda kepada kaum muslimin, “Sebaiknya kalian pergi ke Habasyah karena di sana ada seorang raja yang adil sekali. Di dalam kekuasaannya tidak seorang pun boleh dianiaya, disana adalah bumi kejujuran. Sampai Allah memberikan jalan keluar kepada kalian.”[14]

Meminta Jaminan Keamanan Sekembalinya dari Thaif

Puncak serangan kaum Quraisy terhadap Islam adalah pemboikotan. Mereka bersepakat memboikot Bani Hasyim dan Bani Muthallib, baik yang muslim maupun yang kafir sehingga mengalami kesengsaraan tidak ada bahan makanan. Boikot ini berlangsung sekitar 3 tahun. Tidak lama setelah pemboikotan berakhir, Abu Thalib wafat.

Dakwah di Makkah benar-benar menghadapi jalan buntu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengarahkan dakwahnya ke tempat lain, yakni Thaif. Beliau datang ke sana untuk mencari pembelaan dan menyebarkan Islam. Tetapi beliau ditolak mentah-mentah dan malah dianiaya. Beliau kemudian kembali lagi ke Makkah setelah mendapatkan jaminan keamanan dari Muth’am bin Adiy. Sebelumnya beliau meminta jaminan keamanan kepada Akhnas bin Syuraiq dan Suhail bin Amer, namun ditolak secara halus.

*****

Peristiwa dari sirah nabawiyah di atas memberikan pelajaran kepada gerakan dakwah kebangkitan umat untuk  memiliki al-ma’rifatul maidaniyah yang tepat dan cermat. Mereka harus mengenal bagaimana kekuatan dan sikap para penguasa struktural—juga para penguasa ekonomi masyarakat—dan masyarakat secara umum. Sehingga langkah-langkah dan upaya-upaya membangkitkan umat ini dapat terus berlangsung dan tumbuh berkembang.

Terima kasih telah membaca, mudah-mudahan apa yang anda baca ada manfaatnya. Dengan senang hati, jika anda berkomentar pada tempat yang disediakan dengan bahasa yang santun..

Posting Komentar

Terima kasih telah membaca, mudah-mudahan apa yang anda baca ada manfaatnya. Dengan senang hati, jika anda berkomentar pada tempat yang disediakan dengan bahasa yang santun..

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama