Pilar-pilar Kebangkitan Umat : Kebangkitan Fikiran ( Bagian 3 )

 

Kebangkitan Fikiran

As-Shahwatul Fikriyah (kebangkitan fikriyah/pemikiran)

Selain kebangkitan ruhani, hal lain yang menjadi pilar kebangkitan umat adalah kebangkitan fikriyah (pemikiran). Supremasi pemikiran Islam di tengah masyarakat harus diwujudkan. Umat ini harus menjadi umat yang memiliki kepercayaan bahwa secara konseptual Islamlah yang paling siap menyelamatkan peradaban dan kemanusiaan ini.

Kita harus berupaya membina diri dan umat ini agar memiliki pandangan hidup, pola pikir dan ideologi yang sesuai dengan aqidah Islam. Rela menjadikan Islam sebagai referensi tertinggi dalam memandang urusan kehidupannya dan meninggalkan sikap mengekor (taqlid) atau ikut-ikutan (imma’ah) kepada fikrah dan tsaqafah umat/bangsa lain yang tidak selalu sesuai dengan fikrah dan tasaqafah Islamiyah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan hal ini dengan sabdanya,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669)

Imam Nawawi –rahimahullah– ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dzira’ (hasta) serta lubang dhab (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashrani. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal-hal kekafiran mereka yang diikuti. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”  (Syarh Muslim, 16: 219)[4]

Sedangkan tentang sikap imma’ah (ikut-ikutan), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا وَإِنْ أَسَاءُوا فَلاَ تَظْلِمُوا ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ.

Janganlah kamu menjadi orang yang tidak punyai sikap. Bila orang melakukan kebaikan maka aku pun melakukannya. Namun bila orang melakukan keburukan maka aku pun ikut melakukannya juga. Akan tetapi tempatkanlah diri kalian! Jika orang melakukan kebaikan maka aku melakukannya. Namun jika orang melakukan keburukan maka aku tinggalkan sikap buruk mereka.” (HR. Tirmidzi)

Sesungguhnya kaum muslimin telah memiliki way of life (manhajul hayah) yang sempurna. Umat ini harus terus meningkatkan komitmen terhadap segala sesuatu yang bersumber dari ajaran Islam; mencakup aspek keyakinan (al-i’tiqadi), moral (al-akhlaki), sikap (as-suluki), perasaan (as-syu’uri), pendidikan (at-tarbawi), kemasyarakatan (al-ijtima’i), politik (as-siyasi), ekonomi (al-iqtishadi), militer (al-‘askari), dan hukum (al-jina’i).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak awal telah mencontohkan tentang pentingnya menjaga kemurnian fikrah para pengikutnya. Telah diriwayatkan secara shahih bahwa beliau sangat marah ketika melihat Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu memegang lembaran yang di dalamnya terdapat beberapa potongan ayat Taurat, beliau berkata,

أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ ؟ أَلَمِ آتِ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً ؟ لَوْ كَانَ مُوسَى أَخِي حَيًّا مَا وَسِعَهُ إلاَّ اتِّبَاعِي .

“Apakah engkau masih ragu wahai Ibnul Khatthab? Bukankah aku telah membawa agama yang putih bersih? Sekiranya saudaraku Musa (‘alaihis salam) hidup sekarang ini maka tidak ada keluasan baginya kecuali mengikuti (syariat)ku.” (HR. Ahmad, Ad-Darimi dan lainnya).

Selanjutnya ...

Terima kasih telah membaca, mudah-mudahan apa yang anda baca ada manfaatnya. Dengan senang hati, jika anda berkomentar pada tempat yang disediakan dengan bahasa yang santun..

Posting Komentar

Terima kasih telah membaca, mudah-mudahan apa yang anda baca ada manfaatnya. Dengan senang hati, jika anda berkomentar pada tempat yang disediakan dengan bahasa yang santun..

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama