Hidupkan Hati dengan 3 Wasiat

 



“Pelaku kebaikan di zaman dulu saling mewasiatkan tiga perkara: memenjarakan llisan, memperbanyak istighfar dan menyepi dari keramaian manusia (‘uzlah).” (Perkataan Malik bin Dinar, dikutip oleh Ibn Abd al-Bar dalam karyanya mukhtasah Sifat al-Shafwah).

Saudaraku,

Tegaknya nasihat di tengah-tengah masyarakat merupakan tonggak pembangun masyarakat madani. Matinya obor nasihat adalah indikator lemahnya tatanan sebuah peradaban umat.

Ada beberapa butir buah pelajaran yang dapat kita petik dari pengalaman salafus shalih di atas:

Konsisten dalam kebaikan, kebajikan, prestasi ubudiyah dan ukiran keta’atan akan tereliasasi mewujud di alam realita kehidupan kita, jika wasiat dan berbagi nasihat tetap ajeg dan terus menerus dipraktekkan di tengah-tengah umat. Itulah rahasia sabda Nabi s.a.w, “Agama itu adalah nasihat.” (HR. Muslim, no. 55).


Pelaksanaan beban syari’at; perintah dan larangan-Nya akan tercipta dalam kehidupan pribadi mukmin sejati, jika nasihat terpancar dalam kehidupan. Bangunan Islam mustahil terbangun dalam diri kita, bila bahan-bahan bangunannya tidak tersedia, yakni pilar-pilar nasihat.

Kandungan nasihat yang biasa mereka gulirkan di kalangan mereka agar terjalin kehidupan yang semestinya adalah memenjarakan lisan, memperbanyak istighfar dan menjauhi keramaian manusia.

Lisan adalah anggota tubuh kita yang paling banyak menyeret manusia ke dalam neraka. Terlebih syahwat lisan termasuk syahwat yang paling sulit dikelola. Karena keinginan untuk berbicara dan berkata-kata mengalahkan keinginan kita yang lain. Kita biasa berpuasa seharian tidak mengkonsumsi makanan dan minuman. Tapi kita belum tentu mampu berpuasa dari bercakap dan berkata-kata selama setengah hari.

Lisan yang tidak terdidik dengan baik akan menggelincirkan pemiliknya ke dalam kebinasaan. Uqbah bin amir r.a pernah menanyakan persoalan ini kepada Nabi s.a.w seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah jalan keselamatan itu?.” Beliau menjawab, “Jagalah lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu merasa lapang (artinya: betahlah untuk tinggal di rumah), dan menangislah karena dosa-dosamu.” (HR. Tirmidzi, no. 2406).

Memenjarakan lisan bukan berarti kita tidak bertutur kata, berbicara dan berkomunikasi dengan orang lain. Tapi membatasinya agar tidak terpuruk pada perkataan yang sia-sia, tiada berfaedah apatah lagi perkataan yang mengandung dosa dan maksiat. Salah ucap sering dipicu oleh lisan yang tidak dikelola secara proporsional.

Abu Nuaim al-Asbahani pernah menukil perkaaan Yahya bin Muadz dalam karyanya hilyat al-auliya’, “Hati itu bagaikan periuk dalam dada yang menampung isi di dalamnya. Sedangkan lisan itu bagaikan gayung. Kualitas kepribadian seseorang tampak ketika dia berbicara. Karena lisannya itu akan mengambil apa yang ada dari dalam periuk yang ada dalam hatinya, baik rasanya itu manis, asam, segar, asin (yang sangat asin), atau selain itu. Rasa (kualitas) hatinya akan tampak dari perkataan lisannya.” 

Senandung istighfar akan mengalun dari lidah orang yang sadar dengan kelemahan dirinya. Keterbatasan kebaikan dan kelebihannya. Ketergantungannya terhadap makhluk. Ketidakberdayaan dirinya menghadapi bisikan lembut syahwat dan perangkap syaithani.

Dengan istighfar, hati menjadi lega. Dada menjadi lapang. Jiwa menjadi tenang. Nafas terasa panjang tidak tersengal-sengal melanjutkan perjalanan hidup menuju Sang Maha Pengampun.

Jiwa yang angkuh. Pribadi yang sombong. Mental yang congkak. Profil yang apriorik. Itu semua menjadikan lisan kita kering dari lafal istighfar. Jiwa kita cenderung kasar dan hati mengeras. Jauh dari kelembutan dan sikap santun. Percaya diri yang tidak pada tempatnya. Sulit memaafkan kesalahan dan kekurangan orang lain.

Belajar dari sifat Allah “al-Ghafur” seyogyanya kita membangun kepribadian yang berintegrity tinggi. Berlapang dada dan mudah memberi kata ‘maaf’ kepada orang yang terpuruk dalam kesalahan dan menyinggung perasaan kita serta melukai hati kita. Apalagi yang tidak berpijak pada unsur “kesengajaan”.

Berinteraksi dengan banyak orang, menyeret kita pada dua kemungkinan. Kita yang mewarnai mereka. Atau justru kita yang terwarnai dengan corak mereka. Sehingga nilai dan kualitas diri menjadi luntur. Integritas diri menjadi bubur. Keshalihan pribadi menjadi hancur. Dan keimanan pun menjadi seperti pohon kencur.

‘Uzlah (menyepi dari keramaian orang) menjadi penyelamat diri. Agar kita banyak berkhalwat (berdua-dua-an dengan sang Maha Rahman) adalah methode mendekatkan diri kepada Ilahi, yang telah ditempuh oleh para Rasul, sahabat dan generasi terbaik umat ini.

Ibnu Athaillah menyebutkan dalam ‘syarah hikam’  bahwa dalam diri manusia terdapat bagian yang namanya al-qalb (hati). Hati ini bisa membuat manusia sejahtera dan bisa pula membuat manusia sakit karenanya. Hati ini pula yang membuat tumbuhnya iman, tempat berseminya ma’rifat kepada Allah Ta’ala, dan berkembangnya rasa keikhlasan. Cara untuk meraih suburnya hati dalam ma’rifah yaitu beruzlah. 

Menurut Ibnu Athaillah, yang dimaksud dengan ‘uzlah adalah menghadapkan hati secara terarah khusus kepada Allah Ta’ala. Dengan demikian, hati akan terbebaskan dari masuknya gambaran-gambaran lain selain Allah.

Menurut Syekh Zarruq, orang yang ber-uzlah terbagi dalam tiga bagian. Pertama, orang yang beruzlah dengan hatinya saja sementara badannya tidak. Kedua, orang yang beruzlah badannya saja sementara hatinya tidak. Ketiga, orang yang ber-uzlah baik badan maupun hatinya.

Orang yang ber-‘uzlah menurut kriteria pertama adalah orang yang dapat memelihara hatinya dari keadaan sekitar dia. Meski hidup di tengah kemaksiatan, ia tidak terpengaruh oleh keadaan sekitarnya. Orang yang beruzlah menurut kriteria kedua adalah orang yang terpengaruh oleh keadaan sekitarnya meskipun ia tinggal menyendiri. Sedangkan orang yang ber-‘uzlah menurut kriteria ketiga adalah orang yang benar-benar menjauhkan diri dari keadaan sekitarnya baik fisik maupun hatinya.

Saudaraku,

Menjaga lisan, sebagai upaya meminimalisir dosa dan kesalahan. Perbanyak istighfar sebagai bentuk kesadaran diri menjadi makhluk yang lemah. Dan melakukan ‘uzlah, untuk meraih ma’rifah dan kenikmatan berdekataan dengan Pencipta alam semesta. Itu semua merupakan ikhtiar manusiawi dan usaha uang terukur untuk menjaga kesuburan hati dalam keimanan. 

Mari kita wujudkan dalam realita kehidupan kita. Semoga kita dimudahkan-Nya untuk merealisasikannya. Aamiin. Wallahu a’lam bishawab.


Metro, 17 September 2020

Fir’adi Abu Ja’far

Terima kasih telah membaca, mudah-mudahan apa yang anda baca ada manfaatnya. Dengan senang hati, jika anda berkomentar pada tempat yang disediakan dengan bahasa yang santun..

Posting Komentar

Terima kasih telah membaca, mudah-mudahan apa yang anda baca ada manfaatnya. Dengan senang hati, jika anda berkomentar pada tempat yang disediakan dengan bahasa yang santun..

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama