Penguasa Dunia



 عَنْ عَلِيٍّ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ أنَّهُ قَالَ:» سَادَةُ النَّاسِ فِي الدُّنْيَا الْأَسْخِيَاءُ، وَ فِي الْآخِرَةِ الْأَتْقِيَاءُ «


Dari Ali bin Abi Thalib r.a ia berkata, “Penguasa di dunia adalah orang yang paling dermawan. Dan pemimpin di akherat adalah orang yang paling bertakwa.” (Mawa'izh al-shahabah, Shalih Ahmad al Syami).


Saudaraku,

Salah satu syahwat manusia terbesar selain syahwat perut dan yang di bawah perut adalah syahwat kekuasaan dan menggapai puncak popularitas. Bahkan Yusuf al-Qaradhawi menganggap bahwa syahwat kekuasaan adalah syahwat yang paling sulit ditaklukan dan dikelola.


Tak jarang berbagai cara ditempuh oleh manusia untuk meraih kedua harapan tersebut. Entah cara yang ditempuhnya sejalan dengan rambu-rambu syari'at atau justru melanggar nilai-nilai agama yang menebarkan maslahat di tengah-yengah umat.


Menjelang pilkada misalnya, ada calon yang merapat ke masyarakat. Shalat di masjid. Mengajak tokoh-tokoh masyarakat untuk mengadakan ziarah ke makam para wali. Membagikan sembako dan sayuran gratis. Mendanai renovasi masjid. Membantu fakir miskin. Menyumbang ke yayasan jompo dan lansia. Dan seterusnya. Padahal sebelumnya, ia tidak pernah terlihat shalat berjama'ah di masjid. Kehidupannya tertutup dari lapisan masyarakat. Dikenal ketat dalam soal dana alias pelit dan yang senada dengan itu.


Hal itu dia lakukan, demi meraih popularitas di masyarakat dan memuluskan jalan menuju kursi kekuasaan. Setelah berkuasa dan duduk di kursi empuk, ia kembali pada kebiasaan lama. Terlebih jika gagal dalam pertarungan di pilkada, ia akan menjadi lebih negative dari sebelumnya.


Saudaraku,

Mari kita menapak tilasi perjalanan hidup orang-orang shalih di masa silam. Yang dapat kita jadikan teladan dalam kebaikan dan keberkahan hidup. Obor dalam kegelapan malam nan gulita. 


Pada saat Abdullah bin Mubarak wafat, lebih dari sepuluh ribu orang berdesak-desakan mengiringi jenazahnya ke pemakaman kaum muslimin. Melihat hal ini, khalifah Harun al-Rasyid meneteskan air mata seraya berkata, "Ia (Ibnu Mubarak) adalah pemimpin sejati." 


Karena ia merupakan tokoh agama yang selalu singgah di hati masyarakatnya. Mumpuni di bidang hadits. Menjadi teladan di medan jihad. Menjadi pemimpin bagi orang-orang zuhud. Menjadi cermin dalam ibadah. Dan terdepan dalam berinfaq, sedekah, derma dan berbagi kebahagiaan kepada sesama.


Kita terkenang dengan ungkapan menantu Nabi saw; Ali bin Abu Thalib ra:

"Orang yang dermawan adalah pemimpin manusia di dunia. Sedangkan di akherat, insan bertakwa adalah pemimpinnya." 


Saudaraku,

Indah sekali jika kita tergolong orang yang dermawan. Karena setiap pagi kita akan didoa'kan oleh malaikat yang diutus Allah s.w.t setiap pagi untuk mendo'akan kebaikan bagi orang yang mengeluarkan sedekah. Juga dido'akan oleh orang-orang di sekeliling kita dan makhluk lain ciptaan-Nya.


Sebaliknya, kikir dan bakhil terhadap harta milik kita, akan mengundang do'a keburukan dari malaikat, orang-orang miskin dan mahkluk ciptaan-Nya di sekitar kita.


Kedermawanan akan memikat hati orang-orang di sekeliling kita. Ketika seseorang terpikat dengan sesuatu, maka ia ingin selalu berdekatan dengannya, merasa nyaman bersamanya dan bahkan berkorban untuknya. 


Maka jangan pernah kita bermimpi menjadi orang yang dicintai orang lain. Dido'akan kebaikan, singgah di hatinya. Jika kita bakhil dan pelit terhadap harta milik kita.


Saudaraku,

Orang yang dermawan sejatinya adalah pemimpin bagi masyarakatnya. Yang akan diikuti ucapannya dengan tulus. Terlebih ketika kedermawanan itu dibingkai dengan ketakwaan. Itulah pemimpin sejati di dunia dan akherat. Yang membimbing masyarakat ke jalan yang Allah ridhai dan cintai. Menebarkan kebahagiaan di hati orang-orang yang merasakan kepahitan hidup. Dan seterusnya.


Mari kita jadikan Muharram, tahun baru Hijriyah 1442 H sebagai momentum perubahan dan perbaikan diri. Kita buka lembaran-lembaran hidup baru yang lebih mencerahkan dan lebih berwarna.


Kita isi hari dan malam-malam hari kita dengan berbagi keceriaan, menebar  infaq, sedekah, derma dan kontribusi harta. Sebab jika kita tak memulai kedermawanan dari bulan haram ini, mungkin selamanya kita tak akan pernah menjadi orang yang dermawan.


Kedermawanan adalah awal dari kesuksesan. Ia sebagai pengikat hati yang terurai. Pembuka jiwa yang terkunci. Penghadir seulas senyuman bagi hati yang terluka dan tertipu. Penggembira bagi mereka yang dirundung malang dan duka.


Duduk di pelaminan kekuasaan, tidak ditentukan dengan derma dan harta. Namun tanpa berbagi dan derma yang tebarkan di hati masyarakat, bayangan kursi kekuasaan dan suara mereka terasa semakin menjauh dan mungkin berpindah ke lain hati.


Dan itu semua tentunya ditempuh setelah merapat kepada Zat yang Maha Kuasa. Dengan memperbaharui ruhiyah dan mensolidkan kerja-kerja kemenangan dalam bingkaian jamaah. Wallahu a'lam bishawab.

Metro, 27 Agustus 2020

Fir’adi Abu Ja’far



Terima kasih telah membaca, mudah-mudahan apa yang anda baca ada manfaatnya. Dengan senang hati, jika anda berkomentar pada tempat yang disediakan dengan bahasa yang santun..

Posting Komentar

Terima kasih telah membaca, mudah-mudahan apa yang anda baca ada manfaatnya. Dengan senang hati, jika anda berkomentar pada tempat yang disediakan dengan bahasa yang santun..

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama